Televisi Masih Menjadi Hiburan Mereka Berumur 40-an ke Atas
Di era di mana istilah streaming, on-demand, dan content creator mendominasi percakapan media, televisi linear—format siaran terjadwal yang kita kenal selama puluhan tahun—sering kali dianggap sebagai "artefak" masa lalu. Namun, data rating dan survei pasar menunjukkan realitas yang berbeda: televisi linear tidak mati, ia hanya sedang mengalami penyempitan demografi. Saat ini, penonton setianya didominasi oleh generasi berusia 40 tahun ke atas (Gen X dan Boomers).
Fenomena ini bukan sekadar masalah "gagap teknologi." Ada alasan berlapis yang melibatkan kenyamanan psikologis, kelelahan mental terhadap pilihan, hingga fungsi sosial yang masih belum bisa digantikan sepenuhnya oleh algoritma Netflix atau TikTok.
1. Kenyamanan dalam "Lean-Back Media"
Salah satu alasan utama mengapa generasi 40-an ke atas lebih menyukai TV linear adalah konsep "Lean-Back Media" (media bersandar). Bagi mereka yang telah melewati hari kerja yang panjang dan penuh keputusan, televisi menawarkan bentuk relaksasi yang pasif.
Berbeda dengan layanan streaming yang bersifat "Lean-Forward", di mana penonton harus aktif mencari, memilih, dan mengklik judul film, TV linear melakukan pekerjaan itu untuk Anda. Anda cukup menyalakan TV, dan konten sudah tersedia. Bagi generasi ini, duduk di sofa dan membiarkan stasiun TV menentukan urutan acara adalah bentuk kemewahan mental yang membebaskan mereka dari "Decision Fatigue" atau kelelahan dalam mengambil keputusan.
2. Ritual dan Kebiasaan yang Berakar
Bagi mereka yang lahir sebelum tahun 1985, televisi bukan sekadar alat elektronik, melainkan "jantung" dari sebuah rumah. Ada ritual harian yang sudah mendarah daging selama puluhan tahun.
- Berita Pagi: Menonton berita sambil minum kopi sebelum berangkat kerja.
- Berita Malam: Menonton siaran berita utama pada pukul 19.00 atau 21.00 sebagai penanda waktu istirahat.
- Acara Mingguan: Menunggu hari tertentu untuk menonton talkshow atau kompetisi menyanyi favorit.
Ritual ini memberikan struktur pada hari mereka. Bagi generasi yang tumbuh dengan jadwal yang pasti, kepastian jadwal siaran memberikan rasa keteraturan yang sering kali hilang dalam dunia digital yang serba acak.
3. Kepercayaan pada Kurasi Institusional
Generasi 40 tahun ke atas cenderung memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi pada institusi media tradisional. Di tengah badai disinformasi dan hoax di media sosial, stasiun televisi dipandang sebagai sumber informasi yang lebih kredibel karena memiliki dewan redaksi, proses verifikasi, dan terikat oleh regulasi penyiaran.
Bagi mereka, wajah seorang pembawa berita yang sudah dikenal selama belasan tahun jauh lebih tepercaya daripada potongan video viral di TikTok yang sumbernya tidak jelas. Televisi linear memberikan rasa aman intelektual bahwa apa yang mereka konsumsi telah melalui proses kurasi profesional.
4. Hambatan Teknologi dan Desain Antarmuka (UI/UX)
Meskipun banyak orang berusia 40-an hingga 60-an yang mahir menggunakan smartphone, antarmuka (UI) dari berbagai aplikasi streaming sering kali terasa melelahkan. Setiap platform (Netflix, Disney+, Prime Video) memiliki navigasi yang berbeda, sistem langganan yang harus diperbarui, dan masalah teknis seperti buffering atau log-in yang kedaluwarsa.
Televisi linear menawarkan kesederhanaan satu tombol: Remote Control. Tidak ada menu yang rumit, tidak ada pembaruan perangkat lunak di tengah jalan, dan tidak ada gangguan koneksi internet yang membuat gambar membeku. Kesederhanaan operasional ini adalah nilai jual utama bagi generasi yang menghargai efisiensi waktu dan fungsi.
5. Fungsi "Background Noise" dalam Rumah Tangga
Bagi banyak keluarga di atas usia 40 tahun, televisi sering kali menyala bukan karena seseorang benar-benar menontonnya dengan saksama, melainkan sebagai "suara latar" (background noise).
Televisi yang menyala memberikan kesan bahwa rumah itu "hidup" dan "ramai". Suara presenter berita atau tawa dari acara komedi situasi memberikan rasa kebersamaan yang menemani mereka saat memasak, menyetrika, atau berkebun di dalam rumah. Layanan streaming jarang digunakan dengan cara ini karena biasanya membutuhkan atensi penuh atau akan berhenti otomatis jika tidak ada interaksi.
6. Konten yang Relevan: Berita, Olahraga, dan Acara Lokal
Stasiun TV linear telah beradaptasi dengan memproduksi konten yang memang ditargetkan untuk demografi dewasa.
- Berita Lokal dan Politik: Ini adalah konsumsi utama pria usia 40 tahun ke atas.
- Sinetron dan Drama Keluarga: Konten yang sangat digemari oleh wanita di rentang usia yang sama karena kedekatan isu budaya dan emosional.
- Olahraga Langsung: Menonton pertandingan sepak bola atau bulu tangkis secara langsung masih memberikan sensasi "ketegangan bersama" yang tidak bisa disamai oleh menonton cuplikan di YouTube.
Televisi linear tetap menjadi raja dalam menyiarkan acara-acara yang bersifat "Event-based", di mana semua orang menonton hal yang sama di waktu yang sama.
7. Faktor Ekonomi dan Bundling Layanan
Dari sisi ekonomi, bagi banyak rumah tangga dengan kepala keluarga berusia 40-an, televisi sering kali datang sebagai paket bundling dengan layanan internet rumah (IndiHome, First Media, dll). Karena sudah membayar paket tersebut, mereka merasa "sayang" jika tidak dimanfaatkan.
Selain itu, TV gratis (Free-to-Air) tetap menjadi pilihan paling ekonomis dibandingkan harus berlangganan 4-5 platform streaming berbeda untuk mendapatkan variasi tontonan yang serupa.
Bukan Ketinggalan Jaman, Tapi Pilihan Gaya Hidup
Dominasi generasi 40-an ke atas di TV linear bukanlah tanda bahwa mereka tidak mampu beradaptasi, melainkan cerminan dari prioritas hidup yang berbeda. Jika generasi muda mencari kecepatan dan personalisasi, generasi yang lebih dewasa mencari kenyamanan, kepercayaan, dan kesederhanaan.
Televisi linear bertransformasi menjadi "media pendamping" yang stabil di tengah dunia digital yang bising. Selama stasiun televisi mampu menjaga kualitas kurasi berita dan menyediakan konten lokal yang menyentuh sisi emosional, maka remote TV akan tetap berada di genggaman generasi ini.

Komentar
Posting Komentar